Dilema Industri Sawit

“When one’s young, it seems very easy to distinguish between right and wrong. But, as one gets older, it becomes more difficult. The villains and the heroes get all mixed up.”

~ Rene Mathis (Giancarlo Giannini)

Apparently, getting older is difficult since we have been passing different level of thinking. Based on Blooms’s Taxonomy, there will be six levels of thinking.

Bloom Taxonomy
Source: Feedbackpanda.com

Let’s say that we have to face an issue we called it ‘interest’, such a never ending issue everywhere (and I am willingly to be reviled here). Some people would feel hatred towards it since it can cause other people suffering of bankcruptcy, immoral, bla bla bla. Instead of making a new opportunity as I have explained on previous post riba. Then, could we aswer to ourself for sure, “what level we are now”. Sometimes, it is easier to just labelling haram than breaking down the concept of interest into parts and understand how each part is related. Yep, driving ourself to upper level is kinda hard.

Now, I am done with ‘interest’ but how about another issue “Kenapa BWPT* ada di porto? Bukannya sawit industri yang mengakibatkan deforestasi, jumlah orang utan banyak berkurang, pencemaran udara. Amat jelas terpampang nyatahhh kerugiannya bagi umat manusia. Kalau riba mah tinggal ┬ábilang aja, “Emang rugi ambil KTA ada ribanya? Cost of opportunity itu ngga gratis loh. Ada cost cost ongkoss! Bisa memiliki dan merasakan manfaat akan sesuatu tanpa embel-embel di dunia ini ngga mungkin juga apalagi ada pegawai yang harus digaji!”

Dilematis emang. Karena masing-masing pihak berkepentingan di sini bisa menjadi pahlawan dan penjahat sekaligus. As far as I know, sawit merupakan salah satu komoditas penyumbang pendapatan negara terbesar, kalau ngga salah yhaa di atas 10%. Angka yang fantastis buat netijen supaya memaklumi sedikit ‘cacat’ di industri yang membuka lahan pekerjaan bagi jutaan orang ini. Apalagi, laju deforestasi sudah coba ditekan dengan inpres moratorium sawit 2018 dan standarisasi bernama ISPO yang bersifat mandatory alias wajib yang menjamin bahwa perusahaan menerapkan prinsip keberlanjutan dalam produksinya. Meskipun soal implementasinya kita ngga punya kesempatan memantau di lapangan, jangan-jangan…. naudzubillah jangan deh ~~

Ya Tuhan kaya tulisan ini bela sawit banget seperti ngga mau ngerti kenyataan bahwa konflik sosial juga muncul di masayarakat. Nah ini saya memang ngga tau. I wish somebody wants to share it here. Sependek pengetahuanku sawit mah ngga ada jahat-jahatnya, kenyataannya, bagian manapun dari buahnya bisa dimanfaatkan baik untuk industri makanan, kosmetik, pakan ternak, dll cuma cara manusianya aja ngurusnya gimana. Gitu kan ya…

*Bukan ajakan membeli, secara fundamental sejak 2015 hingga 2018 BWPT konsisten mencatatkan rugi bersih

1 thought on “Dilema Industri Sawit”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *