Fintech Bikin Baper (?)

Do not ask me how many fintech companies that already served Indonesian people nowadays. Yet, you can check the big picture of fintech on Statista.com for further information. However, it shows the data globally and just mentions some regions to be concerned*. Here, I just want to give thumbs up since the growth of fintech in Indonesia is quite massive. It creates employment opportunities but we can not ignore the sad fact that it also makes us more often hearing about the disruption in banking business. Quite complicated, huh? We do not have to discuss it more. Just let the nature finds its balance cause the most important thing as a ritel is to make sure ourself being well-educated before using it. Kenapa? Sederhananya karena saya yang notabene merupakan buruh di sebuah fintech (dan eks buruh perusahaan pembiayaan) sudah merasa agak bosan dan tertekan menerangkan banyak hal kepada banyak penggunanya yang mengeluhkan soal ini-itu a-b-c-d bla bla bla, khususnya perihal kelayakan nasabah. “Kenapa sih Mba kok aplikasi saya ngga disetujui! Punya utang juga ngga pernah!” atau yang senada seperti “Padahal saya sudah menjadi nasabahnya dan bayar tepat waktu loh, Mbak. Sampai cek ke BI data saya bersih ngga ada masalah, kok sekarang ditolak?”

Sedikit bocoran buat pertanyaan pertama amat sangat sederhana bahwa logika semacam itu sudah pasti ngga bisa diterima di dunia keuangan. Yah, bayangin aja ada temen baru di kantor yang rekam jejaknya belum banyak diketahui dan tiba-tiba di hari kedua ngantor dia meminjam uang ke kita. Bandingkan dengan teman lain yang sudah pernah meminjam uang ke kita dan tanpa diingetin pun dibayar sesuai kesepakatan. Kita cenderung akan merasa aman mempercayakan uang tersebut kepada orang yang rekam jejaknya jelas. Jadi, semakin sering ngutang semakin bagus, Ferguso! Asal dibayar tepat waktu juga lah ya!

Jawaban untuk pertanyaan (semi keluhan) kedua pada dasarnya selalu ingat rumus yang ditetapkan OJK bahwa alokasi dari pendapatan seseorang hanya 30% saja yang boleh disisihkan untuk membayar kewajiban cicilan berjalan. Jadi, jika cicilan yang tengah berjalan sudah menghabiskan 30% dari pendapatan, maka kita akan sulit untuk mengajukan pinjaman baru meskipun kita selalu tepat waktu membayar cicilan. Kalau gitu tinggal konfirmasi aja dong pendapatan kita ada kenaikan biar bisa ambil cicilan baru. Well, ngga segampang itu, Ferguso! Entah bagaimana sistem mengumpulkan informasi tentang nasabah sehingga jika hal tersebut merupakan indikasi upaya mark up pada akhirnya akan tercium juga. So, jangan buru-buru baper karena fintech menolak kita menjadi nasabah mereka. Keberhasilan tidak datang begitu saja tanpa kerja keras dan jatuh bangun berkali-kali. Eaaaa.

*Update terbaru: sudah ketemu data soal fintech khusus negara Indonesia di website tersebut di atas. Mohon maklum saat nulis post ini hanya menemukan data secara global. Next mungkin bisa dibedah.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *