Fundamental VS Teknikal

Fundamental dan teknikal memang dua aliran yang saling berseberangan, itulah mengapa antara seseorang yang beraliran fundamental dan teknikal dalam suatu grup saham sering kali terjadi perang, never ending war. Namun justru itulah yang membuat dunia saham berwarna. *Cilaaaaah* Padahal, dari manapun kita mulai belajar saham, entah dari materi fundamental maupun teknikal, rasa aman menekuni saham adalah dengan kombinasi keduanya.

The very first time I started dabbling in stock market, I already knew about annual report, the essential part of a person called fundamentalist. I read more about 10 annual reports. But, once… I bought a company that I never read its annual report. Then, it was floating lost nearly -50% six months later. Suck me! Oke, saya ngga sungguh-sungguh bilang kalau saya ngga membaca laporan tahunan perusahaan tersebut, saya membacanya dan menyimpulkan perusahaan yang saya beli memiliki fundamental yang bagus, namun saya tidak benar-benar memahami bisnisnya yang ternyata bahan bakunya mengikuti harga acuan komoditas dunia yakni tembaga dan aluminium. Tentu akan sangat besar pengaruhnya terhadap pendapatan perusahaan ketika bahan baku naik tajam. Sehingga kinerja perusahaan tersebut diperkirakan menurun dan direspon negatif oleh pasar saat itu. Harganya pun selalu turun dalam enam bulan. Saya tidak lantas membuangnya karena harganya yang menjadi -50% masih lah di layar monitor dan perusahaan masih bisa beroperasi meski marginnya tipis. Ketika harga sahamnya sudah nampak seakan berada di titik terendahnya, saya menambah porsi kepemilikan aka borong lagi di harga bawah atau averaging down hingga harganya menjadi -20% saja. As I said before, seperti beli nanas di supermarket yang ternyata busuk, saya memilih tidak membuangnya tapi mengolahnya menjadi selai. Selang beberapa minggu kemudian naik tajam. Yang tadinya -20% menjadi +2%. Then, fundamental analysis must be worth to apply. It helps a lot to reduce your fear.

Namun karena semakin saya paham bisnis perusahaan tersebut, saya tidak berminat lagi memilikinya dalam jangka panjang, akhirnya dalam posisi harga +10% saya menjualnya. Esok harinya saya mendapati harganya naik dan rally hingga 50% dalam enam bulan. Suck me! Pada saat itu saya menyadari bahwa mempelajari teknikal juga perlu, simply karena orang-orang teknikal juga berada di sana, mengumpulkan saham tersebut di harga bawah sembari melihat kekuatan big money yang mampu menaikkan harga pasar. Boom! It comes to me that: harga yang naik tidak hanya naik lalu turun dan turun, bisa naik dan lanjut naik dan lanjut naik bergantung pasar yang sudah pasti dihuni bermacam-macam manusia dengan aliran dan psikologis berbeda. See, teknikal juga mengajarkan cara melihat peluang… Still, this world is dark and wicked. Ask yourself why why why and find the answers by yourself. Hey, am I a fundamentalis bergaris now? 😀

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *