Haram Jadah Saham

Jadi, sudah paham “tentang” blog ini, kan? Sebegitu penting seorang ritel biasa ini sampai niat banget mewujudkan halaman yang bakalan ngomongin saham. Yep, that is really matter for me, guys. Karena rasanya ngomong sama tembok terus ngga digubris itu nyesek! Oh, no. Ngga separah itu!

Well, that is simply because I know the benefits, but my surroundings not. Sedih warbiyasah dari ratusan juta penduduk Indonesia yang masuk dunia stock market kurang dari 2%. Data per akhir tahun 2018 menunjukkan jumlah investor pasar modal Indonesia masih sebesar 1.6 juta investor sementara Malaysia per tahun 2016 saja sudah mencapai 2.4 juta investor. Dan dari beberapa yang sedikit tau-ngga tau soal pasar modal itu cuma bisa berkomentar judi-haram-takut penipuan tanpa saya pernah dengar hal-hal lain yang menyenangkan. Padahal transaksi jual-beli saham sesederhana jual-beli siomay pinggir jalan. Have you ever thought about the seller name? The way he makes that food? How much money he needs to start his bussiness? Ngga, kan? Sementara di pasar modal kita bisa melakukan hal yang sama: cuma modal tau nama perusahaan yang akan kita beli lalu main klik beli, klik jual, cuan. Jadi, masihkah haram kalau di pasar modal kita bahkan bisa berusaha lebih sebelum membeli yaitu dengan membaca profil perusahaan dan ngulik seluk-beluk bisnisnya baru mulai jual-beli?

Membeli saham adalah membeli bisnis sebuah perusahaan dan menjadi bagian dari perusahaan tersebut. Ketika perusahaan berjaya, maka kita sebagai pemilik saham merasakan manfaatnya dengan mendapatkan dividen atau laba perusahaan yang dibagikan kepada pemilik saham, juga capital gain atau keuntungan yang didapat setelah melakukan aksi jual-beli saham. Mungkin kita berpikir haram karena banyak orang malah kehilangan uang mereka di pasar modal. Heyyy, I just bought pinepple in a supermarket and I found out that it was a rotten fruit so I throw it away. Even though I could make pinepple jam from it. Ada orang yang salah membeli karena tidak memeriksa apa yang dibeli lalu membuangnya begitu saja tanpa berpikir bahwa ada berbagai cara memanipulasi kerugian. Don’t you think life is an endless gambling? Yet, there will be a way to be intelligent “gambler”.

Masih kepentok haram? Masih ada Jakarta Islamic Index kok kak! Meluncur!!!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *