Jadi, Aliran Manakah Kamu

Demi melanjutkan post sebelumnya (Fundamental VS Teknikal), I need to emphazise that I love to see everything from the fundamental and technical analysis. Kok gitu sih? Kan fundamentalis ngga percaya garis… Yah, saya juga ngga percaya garis kalau harga saham xxxx selama tiga tahun tidur terus di harga 50 perak. Well, sebenarnya analisis teknikal sangat membantu kita dalam menentukan waktu beli yang tepat. Never never never be saklek of something!

Contoh kasus agar lebih mudah melihat sisi positif mempelajari teknikal: saya sudah lama mengincar saham ASDF untuk disimpan sampai anak saya kuliah (dengan catatan selama itu perusahaannya ngga rugi). Setelah menghitung harga wajar saham ASDF, saya mendapatkan nilai 560 per lembar. Saat ini harganya cenderung turun dalam dua bulan menjadi 950. Tentu saya masih harus menunggu donggggg. Sampai kapan no one knows…. Ketika harganya menyentuh 620 saya masih mengabaikannya, padahal jika ditarik sejarah pergerakan harganya dalam kurun waktu 10 tahun harga 620 merupakan titik supportnya. Di tahun-tahun sebelumnya ketika mencapai titik tersebut harga kemudian naik dan tidak pernah tembus di bawah 620. Pelaku pasar yang terdiri dari berbagai macam aliran ini pun akan mempertimbangkan sejarah grafik harga yang terbentuk selama kurun waktu tertentu. Kemungkinan tembus ke bawah atau ke atas tidak ada yang tahu. Jadi saya memutuskan membeli dengan mencicil di harga 620 terlebih dahulu. Jika harga tembus di bawah 620, saya akan menambah porsi. Sebaliknya jika harga tembus di atas 620 dan melanjutkan kenaikannya bertahun-tahun saya tidak perlu menyesal karena melewatkan kesempatan membeli di harga murah meskipun tidak mendapatkan harga wajar yang sudah saya tetapkan di awal. All hail Wiwi! All hail Wowo! Eh pemilu dah lewat… 😛

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *