Kenapa Memilih Efek Penerbangan

If you are a very newcomer in stock market or here in my blog page, do not get confused with the term I use above. Saham, efek, ekuitas, apalagi ya.. They are the same thing. Karena masih banyak yang alergi sama kata saham, kali ini pake term efek aja meskipun sebenarnya kata kunci Google harusnya lebih ‘menjual’ kalau judul di atas “Memilih Saham Penerbangan” (Hadoooh). Ehh, ada yang masih alergi??

So oooow, obviously, I am going to tell ya why there is PT Garuda Maintenance Facilities (GMF) AeroAsia Tbk stock in my protofolio. Ngga ada alasan kuat sih sebenarnya buat kekep efek ini dalam jangka lama mengingat perusahaan ini merupakan tipikal perusahaan dengan high COGS seperti induknya, Garuda Indonesia. Dan lagi, sebagai induk sekaligus pelanggannya, emiten berkode GIAA ini tercatat memiliki utang usaha cukup besar kepada GMFI (berdasarkan Laporan Keuangan 2018). Di tengah kondisi industri penerbangan di Indonesia yang gini-gini aja, resiko kekep GMFI juga tinggi. Kemungkinan GI nunggak bayar pemakaian jasa ke GMF AeroAsia juga ada kan.

Ngga beda jauh sama industri perkapalan yang sama-sama high COGS, tapi kenyataannya saya punya juga punya efek Samudera Indonesia di portofolio. Terus kenapa saling berseberangan antara kriteria efek idaman dan kenyataan ya? Simply, karena masih banyak orang yang memandang perusahaan di atas kemungkinan besar akan bisa terus survive mengingat perpindahan orang maupun barang masih belum mampu pakai teknologi teleporting. Jadi, masih masuk kriteria kalau niatnya investasi jangka pendek atau menengah. GITU SIH.

Nah, mungkin alasan ini juga yang melatarbelakangi Garuda Indonesia yang notabene terus mencetak kerugian masih diminati di pasar efek. Kemungkinan lainnya, banyak yang berharap  Garuda Indonesia menjadi turn around company yang konsisten mencetak keuntungan di masa depan. Hal tersebut bisa saja terjadi, berkaca pada perusahaan sejenis di negara lain seperti di Amerika yang mampu konsisten membukukan laba.

Kenapa sih harus berkaca pada Amerika? Secara jumlah penduduk, awalnya Amerika dan Brazil menjadi kandidat yang pas dibandingkan dengan Indonesia. Jumlah penduduk Amerika lebih besar dari Indonesia dan Brazil lebih sedikit. Bisa cek gambar di bawah ini biar ngga dikira asbun.

5 Biggest World Population
Source worldpopdata.org

Nah dengan memfilter dari jumlah penduduk, perkiraan pengguna transportasi tidak akan jauh berbeda. Namun dikarenakan maskapai penerbangan Brazil nasibnya tidak jauh berbeda dengan Indonesia, maka mari belajar dari Amerika. Rupanya di Amerika banyak maskapai penerbangan yang listing di bursa New York. Efek perusahaan-perusahaan tersebut masuk dan terpantau dalam Arca Airline index yang sejak tahun 2010 grafiknya menunjukkan trend bullish. Di bawah ini kinerja top line perusahaan tersebut di tahun 2018 (data diolah dari marketwatch.com).

American Airlines Top Line 2018

Dari beberapa perusahaan di atas, Skywest (SKYW) merupakan maskapai dengan pendapatan mendekati GIAA. Setelah ditelusuri ternyata dari tahun 2015 sampai 2018 Skywest mampu membukukan laba kotor positf yang berarti perusahaan masih bisa mengelola beban operasionalnya. Kemampuan tersebut tidak hanya dimiliki Skywest. Sebagian besar maskapai Amerika yang tersebut di atas mampu melakukan hal yang sama dalam kurun waktu yang sama. Sementara GIAA dari tahun 2015 sampai 2018 tercatat di tahun 2017 membukukan laba kotor sebesar minus $ 60 juta dan 2018 minus $ 206 juta. Fantastis. Well, kayaknya I have told you too much. Padahal cukup sampai paragraf tiga, judul post ini sudah terjawab. Kira-kira beban operasional yang memberatkan GIAA apa ya? Cuma bisa meraba-raba… Eh sudah ada yang curhat kan bahan bakar mahal… Jika sesederhana itu ngga mungkin Bapake minta asing masuk, kan? Mungkin ada yang kerjanya minta ‘digebuk’ baru bisa efisien (?) Mohon petunjuk Suhu 😉

1 thought on “Kenapa Memilih Efek Penerbangan”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *