Kopi dan Pasar Modal

Well, I can not say that most Indonesian people loves to drink coffee. But nowadays the coffee consumer is increasing. I am not a coffee addict or whatever, still I love to hang around with friends and buy some coffees. It costs less than 50K to get a cup of coffee at some hits cafe’s in my city. Atau dengan uang segitu bisa beli kopi instan untuk dikonsumsi di rumah. Sayangnya, saya lagi puasa kopi karena tuntutan konsumsi suplemen and it is not really good not to ngopi. But, after getting started in stock market I think it is never bad at all. Menyisihkan uang ngopi sebesar 50K untuk ditabung di pasar modal adalah sesuatu yang lebih menyenangkan dari pada menunggu modal cukup besar. Meskipun kebanyakan orang sebenarnya menyarankan investasi di pasar modal dengan nominal yang cukup besar, katakanlah minimal 10 juta. Tapi saya lebih suka memulai dengan segelas kopi. Kenapa? Memang bisa?

Karena memang uang dinginnya cuma segitu!

Kata kebanyakan orang, investasi di saham haruslah memakai uang dingin alias uang yang 1000% nganggur. Saya setuju. Bayangkan ketika kita membeli saham BBRI seharga Rp. 300.000 per lot lalu tiga bulan setelahnya kita perlu nyumbang pernikahan saudara ketika kondisi keuangan pas-pasan plus ngga ada tabungan selain di saham. Pilihan satu-satunya dengan menarik saham yang apesnya saat itu sedang dalam tren turun sebesar 200.000 per lot. Mau jual murah? Jadi, kalau uang dingin cuma 50K, ya sudah cukup itu.

Membangun Psikologi

Banyak orang terjun ke saham karena melihat orang lain sukses melipat gandakan uang dalam sekejap dan mengira hal seperti itu bisa dilakukan semua orang. Padahal faktanya kemampuan semacam itu tidak didapat hanya dalam waktu semalam. Bahkan yang memiliki kemampuan semacam itu bisa saja harus menunggu waktu yang tepat karena banyak sentimen dari dalam maupun luar negeri yang mempengaruhi pergerakan harga saham. Sehingga jangan pernah memaksakan diri berhutang KTA 100 juta, giliran saham yang dibeli besoknya turun 5% langsung linglung.

Mulai membeli saham dengan nominal kecil setiap kali uang dingin datang akan menghindarkan kita dari ketakutan akan kehilangan sejumlah uang besar dalam waktu singkat. Dan selama kita percaya bahwa sebuah perusahaan yang telah kita pelajari memiliki fundamental yang baik, kita akan cenderung bersabar dalam mengumpulkan uang dingin untuk membelinya di harga yang lebih murah lagi. Di masa tunggu uang dingin ini pun kita akan terhindar dari kebiasaan mengecek pergerakan harga saham, sehingga kita tidak terpengaruh lonjakan kenaikan maupun penurunan yang biasanya disertai sentimen eksternal yang belum tentu cerminan dari nilai saham sebenarnya.

Lalu pertanyaan selanjutnya apakah segelas kopi bisa diandalkan?

Pada prinsipnya, saya tau ada saham-saham yang bisa dibeli dengan uang 50K bahkan bisa kurang dari itu. Saham yang dimaksud adalah saham lapis dua, yaitu saham yang memiliki kapitalisasi pasar antara Rp. 500 miliar-Rp. 10 triliun yang harganya cenderung fluktuatif dan terbilang cukup likuid alias banyak ditransaksikan.

Misalnya, saham XXXX yang menurut rencana akan saya beli hanya kalau harganya 50K per lot dengan harapan saya bisa mendapatkan dividen (laba perusahaan yang dibagikan kepada pemegang saham) 44 rupiah per lembar (mengacu dividen tahun buku 2017) setiap tahun yang berarti yieldnya sekitar 8% di mana sudah melebihi deposito yang rata-rata berada di kisaran 5-6%.

Nah, kan… Jangan pesimis dengan modal minim. Your consistency will get paid, Dude!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *