Ngga Ingin Kaya ~ Sebuah Pengakuan Munafik

Hey there!!

How do you think about being rich? Everybody wants to be rich, right? So do I. But, I have no idea what is the important of being rich. I can still pay my debt, that is enough. EWK EWK EWK.. To have a big house? A luxury car? Once, it comes to me to have all of it. Again, I think it is nothing (terdengar munak-munak dikit gpp la yee).

Then, the question is “why I am here telling you about investing in stock market” while people can be rich because of it. Well, I have already written about someone who experienced depression of losing money from stock market. You can conclude yourself the main purpose of this blog. I just want to share a great book this time (ewk ewk ewk,  terdengar mbulet? sorry to say). Actually, I have not finished it yet. I am on page 152 of 561. The tittle of the book is The Richest Woman in America by Janet Wallach. Jadi, alangkah baiknya kalau saya membacot sedikit tentang bukunya dengan bahasa Indonesia sahaja (yaiya sedikit lah masih halaman berapa CEUNAH).

Richest Woman in America ini merupakan biografi dari wanita Amerika terkaya bernama Hetty Green semasa gilded age alias akhir abad 19. Kalau ngga terbayang gimana masa-masa itu bolehlah mampir Youtube siapa tahu terinspirasi gaya rambutnya. Oke skip… As you expected, Hetty Green ini menjadi kaya berkat Yuk Nabung Saham. Dia mulai belajar bisnis di usia yang sangat muda. Dia bahkan sudah pandai berhitung dan membaca di usia 6 tahun. Bahan bacaannya pun tergolong berat buat anak SD jaman sekarang, yakni koran dan laporan keuangan. Dalam hal ini ayahnya sangat berperan dalam proses Hetty belajar. Hal tersebut sangat tidak mengherankan karena ayahnya adalah seorang pengusaha. Hetty juga terjun ke lapangan menemani ayah dan kakeknya ketika menjalankan bisnis perburuan paus yang kala itu masih menjadi industri yang sangat menguntungkan. Hetty memperhatikan bagaimana ayahnya melakukan inspeksi kapal dan berunding dengan kapten-kapten kapal dan para pedagang. Hetty semakin banyak belajar dari berbagai macam buku termasuk buku tentang trading. Ia pun dipercaya ayahnya untuk bekerja dan mencatat pengeluaran ayahnya. Ketika ia dan ayahnya pindah ke New York, Hetty pun mulai belajar kepada ayahnya dalam membangun portofolionya sendiri yang terdiri dari saham, obligasi, dan real estate. Perjalanan investasi Hetty kala itu di luar gaya investasi pada umumnya. Hetty membeli saham ketika pasar panik sehingga melepas saham mereka dengan harga murah. Maka, ia pun dijuluki Nenek Value Investing, lebih tinggi levelnya dong dari Benjamin Graham sang Bapak Value Investing… All hail Hetty Green!

“There is no great secret in fortune making. All you do is buy cheap and sell dear, act with thrift and shrewdness and be persistent,” kata nenek Hetty.

Selain disuguhi kisah sukses Hetty Green, di dalam buku ini tergambar masa-masa krisis keuangan pada masa Hetty hidup. Beberapa macam krisis keuangan tersebut dikenal sebagai Panic of 1873 dan Tulip Mania (masih yang tersebut di awal-awal halaman yee). Di mana Panic of 1873 terjadi ditengarai oleh kegagalan pembayaran hutang untuk ekspansi di sektor perkeretaapian. Sementara Tulip Mania terjadi karena adanya booming Tulip. Terdengar aneh kan ya, coba bayangin demam batu akik ketika orang-orang jual-beli batu akik sampai puluhan juta. Lalu di saat harganya hancur pembeli-pembeli terakhir yang rela gadai kolornya, rela ngutang ke bank buat punya secuil aja seketika membuat bank-bank ini ikutan kolaps.

Nahhhhh… It is really really good book kaaaaann… Now, sudah dapet kan feel kayanya?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *