Right Issue dan Reverse Stock Split yang Menyakiti

Semoga kalian yang nyasar di sini atau yang mantengin blog ini sampai sejauh ini dan kebetulan sudah bertekad terjun di equity market, berupaya menjauhkan diri dari perusahaan yang suka memanfaatkan right issue dan reverse stock split yang dalam bebagai pertimbangan lebih sering aksi tersebut merugikan investor. Terutama saham yang termasuk dalam golongan B7 yang melegenda itu. Kecuali memang pada dasarnya kalian tipikal orang yang suka sport jantung. Bebaaaas mau pilih perusahaan manapun. Eh serius jangan ding!

B7 Illustration
Img Source: jguitar.com

Sebelum melanjutkan pembahasan, mari kita pahami dua istilah tersebut.

Right Issue, selanjutnya disingkat RI, adalah aksi korporasi untuk memperoleh dana segar dengan cara menerbitkan saham baru. Sehingga jumlah saham beredar  bertambah. Penambahan ini tentu saja membuat prosentase kepemilikan saham oleh pemegang saham terdilusi. Misal, kita memiliki saham ABCD sebesar 10.000 lembar dari total saham beredar sebesar 1 juta lembar atau sama dengan 0,01%. Kemudian PT. ABCD, Tbk. melakukan aksi RI sebesar 1 juta lembar saham, maka saham beredar menjadi 2 juta saham dengan prosentase kepemilikan kita berkurang menjadi 0,005%.

Sementara reverse stock split, selanjutnya disingkat RSS adalah aksi korporasi yang menyebabkan harga saham naik dengan mengurangi jumlah saham beredar. Dalam kasus tertentu aksi ini tentu sangat merugikan investor. Sebagai gambaran, saham ABCD hari ini dihargai 50 rupiah per lembar dengan total saham beredar 1 juta lembar, sehingga kapitalisasi pasarnya saat ini sebesar 50 juta rupiah. Jika perusahaan ABCD melakukan RSS dengan perbandingan 1:4, maka harga sahamnya menjadi 200 per lembar dengan total saham beredar berkurang menjadi 250 ribu lembar. Memang secara ril saham yang dimiliki investor nilainya tidak berkurang, namun respon pasar di kemudian hari bisa beragam, bisa jadi harga saham ABCD keesokan harinya turun karena selama ini kinerja perusahaannya buruk. Nah, dari sini bisa kita tarik kesimpulan betapa mengerikannya dua aksi korporasi di atas jika dilakukan oleh perusahaan yang tengah kesulitan likuiditas dan mempunyai preseden buruk selama beroperasi. Terlebih jika perusahaan tersebut tidak sekali saja melakukannya.

Jika kalian benar-benar baru terjun di pasar modal, ikuti saja berita-berita yang beredar mengenai aksi korporasi dari perusahaan yang termasuk B7 dan mulai bedahlah laporan keuangan tahunan mereka. You will find that white collar is not always good to see from the distance…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *